CAPAIAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA KHONGHUCU DAN BUDI PEKERTI FASE B
mekaelektronika.com CAPAIAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA KHONGHUCU DAN BUDI PEKERTI FASE B
A. Rasional Capaian Pembelajaran Mata Pelajaran Pendidikan Agama Khonghucu
dan Budi Pekerti
Hakikat dan Esensi Pendidikan Agama Khonghucu tertuang dalam makna makna
mendidik. Mendidik adalah proses atau usaha menumbuhkan sifat-sifat baik
manusia dan menolong dari kekhilafannya. Tersurat dalam Catatan Kesusilaan
(Liji) tentang empat kekhilafan seorang pelajar, yaitu: Khilaf karena
terlalu banyak yang dipelajari (Duo Shi); khilaf karena terlalu sedikit yang
dipelajari (Gua Shi); khilaf karena menggampangkan (Yi Shi); dan khilaf
karena ingin segera berhenti belajar (Zhi Shi). Keempat masalah ini timbul
di hati yang tidak sama. Bila diketahui akan hatinya, kemudian akan dapat
menolong mereka dari kekhilafan itu. Sedangkan Pendidikan sangat menekankan
adanya suatu pandangan bahwa watak sejati manusia itu pada dasarnya baik.
Atas dasar keyakinan bahwa watak sejati manusia itu baik, maka esensi
pendidikan adalah mengajar sekaligus mendewasakan, dan pendidikan dalam
agama Khonghucu pada hakikatnya menjadikan orang tetap baik, bertahan pada
fitrah atau kodrat alaminya (xing), dan menolong dari kekhilafankekhilafan.
Tujuan Pendidikan Agama Khonghucu Secara khusus bertujuan membentuk manusia
berbudi luhur (Junzi) yang mampu menggemilangkan Kebajikan Watak Sejatinya,
mengasihi sesama dan berhenti pada Puncak Kebaikan. Pribadi yang luhur
inilah merupakan pondasi dalam menjawab tantangan perubahan zaman dan
membangun peradaban manusia dari masa ke masa. Oleh karena itu, pendidikan
secara umum bertujuan untuk mengubah rakyat dan menyempurnakan adat
istiadatnya. Tersurat dalam catatan kesusilaan, “Bila penguasa selalu memikirkan atau memperhatikan perundang-undangan, dan mencari orang baik dan tulus, ini cukup untuk
mendapat pujian, tetapi tidak cukup untuk menggerakkan orang banyak. Bila ia
berusaha mengembangkan masyarakat yang bajik dan bijak, dan dapat memahami
mereka yang jauh, ini cukup untuk menggerakkan rakyat, tetapi belum cukup
untuk mengubah rakyat. Bila ingin mengubah rakyat dan menyempurnakan adat
istiadatnya, dapatkah kita tidak harus melalui pendidikan?” (Li Ji. XVI: 1)
Peran dan Fungsi Pendidikan Agama Khonghucu sangat erat hubungannya dengan
keteladanan dan nasihat nabi Kongzi. Nabi Kongzi memberikan bimbingan untuk
senantiasa meneliti hakikat tiap perkara sehingga mampu memiliki pengetahuan
(hidup) yang cukup. Pengetahuan (hidup) yang cukup, maka dapatlah dicapai
tekad yang beriman. Dan dengan tekad yang beriman, maka dapatlah meluruskan
hati (mengendalikan nafsu) dan bersikap tepat. dengan hati lurus dan sikap
yang tepat inilah seseorang mampu membina dirinya dengan baik. Diri yang
terbina akan mampu membereskan rumah tangganya. dengan rumah tangga yang
beres, maka barulah dapat dicapai negara teratur. dan negara yang teratur
barulah dapat dicapai damai di dunia.
Ajaran agama merupakan bagian tidak terpisahkan dari kehidupan manusia dan
harus dapat memberikan kontribusi nyata dalam kehidupan. Sesuai dengan
tujuan pendidikan di atas, pendidikan agama Khonghucu sangat berperan
membentuk pribadi-pribadi yang luhur dan terbina. Diri yang terbina akan
berpengaruh pada keberesan rumah tangga. Jika ada keberesan dalam setiap
rumah tangga maka akan tercapai keteraturan dalam Negara. Jika setiap negara
teratur maka akan dapat dicapai damai didunia. Tersurat di dalam kitab Daxue bab utama pasa 4 dan 5: “Orang jaman dahulu yang hendak menggemilangkan Kebajikan Yang Bercahaya itu pada tiap umat di
dunia, ia lebih dahulu berusaha mengatur negerinya; untuk mengatur
negerinya, ia lebih dahulu membereskan rumah tangganya; untuk membereskan
rumah tangganya, ia lebih dahulu membina dirinya; untuk membina dirinya, ia
lebih dahulu meluruskan hatinya; untuk meluruskan hatinya, ia lebih dahulu
mengimankan tekadnya; untuk mengimankan tekadnya, ia lebih dahulu
mencukupkan pengetahuannya; dan untuk mencukupkan pengetahuannya, ia meneliti hakekat tiap perkara dan “Dengan meneliti hakekat tiap perkara dapat cukuplah pengetahuannya; dengan cukup
pengetahuannya akan dapatlah mengimankan tekadnya; dengan tekad yang beriman
akan dapatlah meluruskan hatinya; dengan hati yang lurus akan dapatlah
membina dirinya; dengan diri yang terbina akan dapatlah membereskan rumah
tangganya; dengan rumah tangga yang beres akan dapatlah mengatur negerinya;
dan dengan negeri yang teratur akan dapat dicapai damai di dunia.”
Semuanya itu dimulai dari pembinaan diri sebagai pokok. Apabila setiap
insan mampu membina diri dengan baik maka Jalan Suci akan tumbuh dan
berkembang baik. Oleh karena itu, perilaku Junzi merupakan tujuan utama yang
ingin dan harus dicapai dalam pendidikan agama Khonghucu baik di rumah, di
sekolah maupun dalam kelembagaan agama Khonghucu.Maka sudah sewajarnya aspek
perilaku Junzi harus menjadi porsi terbesar dan utama dalam pendidikan agama
Khonghucu di sekolah.
Ruang lingkup Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekerti meliputi usaha
memuliakan hubungan manusia dengan Tuhan sebagai pencipta dengan prinsip
satya kepada Tuhan (Zhong Yu Tian); memuliakan hubungan dengan manusia sebagai sesama, dengan prinsip
tepaselira/tenggang rasa kepada sesama (Shu Yu Ren), dan usaha memuliakan hubungan dengan alam sebagai sarana, dengan prinsip
selaras/harmonis dengan alam semesta (He Yu Di).
Prinsip Pembelajaran Pendidikan Agama Khonghucu terdiri atas 3 hal: (1)
menerapkan nilai-nilai melalui keteladanan dan membangun kemauan, (2) siapa
saja adakah guru, siapa saja adalah siswa, dan di mana saja adalah kelas,
dan (3) mencari tahu, bukan diberi tahu. Secara mendetail dijelaskan sebagai
berikut:
(1)
Menerapkan nilai-nilai melalui keteladanan dan membangun kemauan,
Sebagaimana telah ditegaskan di atas tentang cara seorang bijaksana
memberikan pendidikan: Di depan “… Ia membimbing berjalan dan tidak menyeret; di tengah, “Ia menguatkan dan tidak menjerakan; Di belakang, “Ia membuka jalan tetapi tidak menuntun sampai akhir pencapaian. Membimbing berjalan, tidak menyeret menumbuhkan keharmonisan; menguatkan
dan tidak menjerakan, itu memberi kemudahan; dan, membukakan jalan tetapi
tidak menuntun sampai akhir pencapaian, menjadikan orang berpikir.
Menimbulkan keharmonisan, memberi kemudahan dan menjadikan orang berpikir, itu pendidikan yang baik.”
(2)
Siapa saja adalah guru, siapa saja adalah siswa, dan di mana saja adalah kelas, Kongzi bersabda, “Tiap kali jalan bertiga, niscaya ada yang dapat kujadikan guru; Kupilih yang baik, Ku ikuti dan yang tidak baik Ku perbaiki.” (Lunyu. VII:
22), “Di dalam kesusilaan (Li) ku dengar bagaimana mengambil seseorang sebagai suritauladan, tidak
kudengar bagaimana berupaya agar diambil sebagai teladan. Di dalam
kesusilaan kudengar bagaimana orang datang untuk belajar, tidak kudengar bagaimana orang pergi untuk mendidik.”
“Biar ada makanan lezat, bila tidak dimakan, orang tidak tahu bagaimana rasanya; biar ada Jalan Suci yang Agung, bila tidak belajar,
orang tidak tahu bagaimana kebaikannya. Maka belajar menjadikan orang tahu
kekurangan dirinya, dan mengajar menjadikan orang tahu kesulitannya. Dengan
mengetahui kekurangan dirinya, orang dipacu mawas diri; dan dengan
mengetahui kesulitannya, orang dipacu menguatkan diri (Zi Qiang). Maka dikatakan, “Mengajar dan belajar itu saling mendukung. “Nabi
Yue bersabda, “Mengajar itu setengah belajar.” (Shu Jing IV. VIII. C. 5) Ini kiranya memaksudkan hal itu.” (Li Ji. XVI: 3)
(3)
Mencari tahu, bukan diberi tahu; Kongzi bersabda, “Jika diberi tahu satu sudut tetapi tidak mau mencari ketiga sudut lainnya, aku tidak mau memberi tahu lebih lanjut.”, “Kalau di dalam membimbing belajar orang hanya mencatat pertanyaan, itu belum memenuhi syarat sebagai
guru orang. Tidak haruskah guru mendengar pertanyaan? Ya, tetapi bila murid
tidak mampu bertanya, guru wajib memberi uraian penjelasan, setelah
demikian, sekalipun dihentikan, itu masih boleh.”
Mengajar bukanlah memindahkan pengetahuan dari guru kepeserta didik.
Mengajar berarti berpartisipasi dengan peserta didik dalam membentuk
pengetahuan, membuat makna, mempertanyakan kejelasan, bersikap kritis,
mengadakan justifikasi. Guru berperan sebagai mediator dan fasilitator.
“Kini, orang di dalam mengajar, (guru) bergumam membaca tablet (buku bilah dari bambu) yang diletakkan di hadapannya, setelah selesai lalu
banyak-banyak memberi pertanyaan. Mereka hanya bicara tentang berapa banyak
pelajaran yang telah dimajukan dan tidak diperhatikan apa yang telah dapat
dihayati; ia menyuruh orang dengan tidak melalui cara yang tulus, dan
mengajar orang dengan tidak sepenuh kemampuannya. Cara memberi pelajaran
yang demikian ini bertentangan dengan kebenaran dan yang belajar patah
semangat. Dengan cara itu, pelajar akan putus asa dan membenci gurunya;
mereka dipahitkan oleh kesukaran dan tidak mengerti apa manfaatnya. Biarpun
mereka nampak tamat tugas-tugasnya, tetapi dengan cepat akan
meninggalkannya. Kegagalan pendidikan, bukankah karena hal itu?” (Li Ji. XVI: 10)
B. Tujuan Pembelajaran Mata Pelajaran Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi
Pekerti
Mata pelajaran Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekerti bertujuan:
1. Membentuk manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tian
Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia dan mampu menjaga kedamaian dan
kerukunan hubungan inter dan antara umat beragama” dalam kehiduapn pribadi, keluarga, masyrakat, berbangsa dan bernegara serta kehidupan masyarakat dunia.
2. Membentuk manusia berbudi luhur (Junzi) yang mampu mengembangkan Kebajikan Watak Sejatinya, mengasihi sesama dan
berhenti pada Puncak Kebaikan. Menumbuhkan sifat-sifat baik peserta didik
dan menolongnya dari kekhilafan.
3. Memastikan peserta didik teguh dalam usaha menumbuhkembangkan iman melalui
pemahaman, penghayatan, pengamalan, tentang Watak Sejatinya (Xing) sehingga dapat bertahan pada kodrat suci yang difirmankan Tuhan.
4. Mengembangkan pemahaman mewujudkan manusia yang sadar tugas dan tanggung
jawabnya baik secara vertikal kepada Tian, maupun secara horizontal kepada sesama manusia dan alam semesta.
C. Karakteristik Mata Pelajaran Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekerti
Mata pelajaran Pendidikan Agama Khonghucu digambarkan melalui 5 elemen yang
meliputi (1) Sejarah Suci, (2) Kitab Suci, (3) Keimanan, (4) Tata Ibadah,
dan (5) Perilaku Junzi. Kelima elemen tersebut dicapai dengan kecakapan
dalam pembinaan diri, empati, komunikasi, refleksi, berpikir kritis, kreatif
dan kolaborasi
Elemen-Elemen Mata Pelajaran Pendidikan Agama Khonghucu seperti berikut:
Elemen |
Deskripsi |
Sejarah Suci |
Mengkaji secara kritis dan komprehensif tentang rentan waktu
perjalanan sejarah Agama Khonghucu, mengenal hikayat tokoh-tokoh
teladan dalam agama Khonghucu yaitu Nabi Kongzi dan Murid-muridnya,
Para Raja Suci (Shen Ming) sebagai panutan untuk dapat dijadikan teladan dan diaplikasikan
dalam kehidupan sehari-hari sebagai refleksi dan pengetahuan
keteladanan tentang sejarah perilaku Cinta Kasih, Kebenaran,
Kesusilaan, Kebijaksanaan dalam perjalanan sejarah agama Khonghucu.
|
Kitab Suci |
Mengkaji karakteristik dan makna yang terkandung dalam Kitab Suci
agama Khonghucu yang terdiri dari Kitab Yang Pokok yaitu Kitab Sishu
dan Kitab Yang Mendasari yaitu kitab Wujing
sebagai fondasi dasar dalam perilaku Junzi. Sebagai pedoman dan anjuran tentang isi dari seluruh ajaran agama
Khonghucu untuk dapat direfleksikan dan diaplikasikan dalam
kehidupan sehari-hari agar menjadi pedoman hidup dalam menjalankan
tugas-tugas kemanusian dalam hubungan dengan sesama manusia, alam
semesta dan Pencipta. |
Keimanan |
Peserta didik dapat meyakini dan memuliakan eksistensi Tian
Tuhan Yang Maha Esa sebagai Pencipta Alam Semesta dan memahami
fungsi manusia sebagai co creator
yang memiliki keterbatasan untuk dapat mendalami dimensi
spiritualitas tentang hubungan manusia dengan penciptanya. Meyakini
tugas kenabian Nabi Kongzi sebagai pembimbing dan penyelamat manusia
dimana manusia diharapkan dengan konsisten menjalankan semua saran
dan nasehat Nabi Kongzi untuk berguna sebagai salah satu makhluk
ciptaan Tuhan yang dapat berkontribusi pada keharmonisan dalam
seluruh alam semesta dan meyakini peran serta Leluhur serta Para
Suci (Shen Ming) sebagai representasi dari Sang pencipta yang wajib dimuliakan dan
dihormati dalam dimensi spiritualitas segala perilaku tiap manusia.
|
Tata Ibadah |
Sebagai wujud dari kesusilaan, pedoman melaksanakan tata ibadah
cara keteraturan dalam ritual persembahyangan kepada Tian
Tuhan YME, Nabi Kongzi dan Para Leluhur serta Para Suci (Shen Ming), sikap dalam bersembahyang, sikap tata cara menghormati sesama
manusia, mengetahui dan memaknai pentingnya makna yang terkandung
dalam setiap perayaan Hari Raya persembahyangan umat Khonghucu.
|
Perilaku Junzi |
Peserta didik dapat mengenali dirinya sendiri, sebagai individu,
bagian dari masyarakat dan lingkungannya, sebagai warga negara
Indonesia dan warga negara dunia. Sebuah perilaku menjadi manusia
yang berbudi luhur yang menjunjung cinta kasih, kebenaran,
kesusilaan, kebijaksanaan dan dapat dipercaya yaitu Lima Kebajikan
(Wu Chang), Lima Hubungan Kemasyarakatan (Wu Lun) dan Delapan Kebajikan (Ba De) serta selalu berbakti kepada orang tua, keluarga, masyarakat,
negara dan alam semesta, sikap yang selalu ingin belajar dari tempat
rendah terus maju menuju jalan Suci (Dao), sikap tidak keluh gerutu kepada Tian
serta sesal penyalahan terhadap sesama manusia dan alam semesta |
D. Capaian Pembelajaran Setiap Fase Mata Pelajaran Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekerti Fase B (Umumnya untuk kelas III dan IV SD/Program Paket A) Pada akhir Fase B, Pelajar membiasakan menjalankan ajaran agama yang dianutnya serta mulai mempelajari pengetahuan faktual dengan cara mengamati (mendengar, melihat, membaca, dan menanya) berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah dan di sekolah. Dalam elemen Sejarah Suci, peserta didik mempelajari kisah keteladanan dan prinsip-prinsip moral yang ditegakkan kembali oleh Mengzi tentang Watak Sejati (Xing), mengenal murid utama Nabi Kongzi (Yan Hui, Zi Lu, Zi Gong, Zeng Zi) dan keteladanny, menceritakan riwayat Nabi Kongzi sebagai Tianzhi Muduo, menelusuri pengembaraan Nabi Kongzi selama 13 tahun, mengetahui Zhuxi sebagai penyusun kitab Sishu, menceritakan kisah Ibunda nabi Kongzi, menceritakan kisah kebijaksanaan tiga ibunda agung (ibu Mengzi, ibu Ouyang Xiu, ibu Yue Fei), dan mempraktekkan hikmah nasehat cerita tiga ibunda agung dalam keseharian. Pada elemen Kitab Suci, peserta didik kesukaan yang membawa faedah dan tiga kesukaan yang membawa celaka yang terdapat dalam kitab Sishu dan Wujing, menyebutkan bagian-bagian kitab suci yang pokok (Sishu) dan yang mendasari (Wujing), dan memilih salah satu ayat dalam kitab Sishu yang berkaitan dengan Ba De. Dalam elemen Keimanan, peserta didik meyakini makna ritual persembahyangan sebagai cara untuk memuliakan Tuhan, Nabi Kongzi, Para Leluhur, meyakini tandatanda khusus menjelang wafat Nabi Kongzi, menyebutkan poin-poin delapan keimanan (Ba Cheng Zhen Gui), memahami cita-cita mulia Nabi Kongzi, meneladani semangat belajar Nabi Kongzi, menelusuri pengembaraan Nabi Kongzi, dan meyakini bahwa Nabi Kongzi adalah utusan Tian (Genta Rohani Tian/Mu Duo Tian). Pada elemen Tata Ibadah, peserta didik menyusun peralatan dan perlengkapan sembahyang di altar leluhur, mengenal perlengkapan yang ada pada altar leluhur, mempraktikan cara menancapkan dupa dalam bersembahyang kepada Tian, Nabi, dan leluhur, menunjukan sikap tangan Bao Xin Ba De, mengikuti kebaktian di Litang/ Miao/ Kelenteng, dan menjelaskan urutan pelaksanaan kebaktian di Litang. Dan pada elemen Perilaku Junzi, peserta didik meneladani perilaku kebajikan luhur Nabi Kongzi, meneladani perilaku luhur murid-murid Nabi Kongzi, membiasakan diri sikap menghargai waktu, menunjukkan sikap lembut dan penuh perhitungan, menunjukan sikap saling mengasihi sesama manusia sesuai prinsip yang diajarkan Nabi Kongzi bahwa Semua Manusia di Dunia adalah Saudara, menunjukkan perilaku sesuai dengan Delapan Kebajikan (Ba De), menunjukkan sikap mudah bergaul dan berkawan dengan para sahabat yang membawa faedah yang berada di lingkungan sekolah, tetangga dan lainnya tanpa memandang suku, ras, agama dan golongan, dan menunjukkan semangat introspeksi dan mau segera mengakui kesalahan serta memperbaiki diri.
Fase B berdasarkan Elemen:
Elemen |
Capaian Pembelajaran |
Sejarah Suci |
Peserta didik mempelajari kisah keteladanan dan prinsipprinsip
moral yang ditegakkan kembali oleh Mengzi tentang Watak Sejati
(Xing), mengenal murid utama Nabi Kongzi
(Yan Hui, Zi Lu, Zi Gong, Zeng
Zi) dan keteladanny, menceritakan riwayat Nabi Kongzi
sebagai Tianzhi Muduo,
menelusuri pengembaraan Nabi Kongzi
selama 13 tahun, mengetahui Zhuxi
sebagai penyusun kitab Sishu,
menceritakan kisah Ibunda nabi Kongzi,
menceritakan kisah kebijaksanaan tiga ibunda agung (ibu Mengzi, ibu Ouyang Xiu, ibu Yue Fei), mempraktekkan hikmah nasehat cerita tiga ibunda agung dalam
keseharian. |
Kitab Suci |
Peserta didik menyebutkan tiga kesukaan yang membawa faedah dan
tiga kesukaan yang membawa celaka yang terdapat dalam kitab
Sishu
dan
Wujing,
menyebutkan bagian-bagian kitab suci yang pokok (Sishu) dan yang mendasari (Wujing), memilih salah satu ayat dalam kitab Sishu
yang berkaitan dengan Ba De.
|
Keimanan |
Peserta didik meyakini makna ritual persembahyangan sebagai cara
untuk memuliakan Tuhan, Nabi Kongzi, Para Leluhur, meyakini
tanda-tanda khusus menjelang wafat Nabi Kongzi, menyebutkan
poin-poin delapan keimanan (Ba Cheng Zhen Gui), memahami cita-cita
mulia Nabi Kongzi, meneladani semangat belajar Nabi Kongzi,
menelusuri pengembaraan Nabi Kongzi, meyakini bahwa Nabi Kongzi
adalah utusan Tian (Genta Rohani Tian/Mu Duo Tian). |
Tata Ibadah |
Peserta didik menyusun peralatan dan perlengkapan sembahyang di
altar leluhur, mengenal perlengkapan yang ada pada altar leluhur,
mempraktikan cara menancapkan dupa dalam bersembahyang kepada Tian,
Nabi, dan leluhur, menunjukan sikap tangan Bao Xin Ba De, mengikuti
kebaktian di Litang/ Miao/ Kelenteng, menjelaskan urutan pelaksanaan
kebaktian di Litang. |
Perilaku Junzi |
Peserta didik meneladani perilaku kebajikan luhur Nabi Kongzi,
meneladani perilaku luhur murid-murid Nabi Kongzi, membiasakan diri
sikap menghargai waktu, menunjukkan sikap lembut dan penuh
perhitungan, menunjukan sikap saling mengasihi sesama manusia sesuai
prinsip yang diajarkan Nabi Kongzi bahwa Semua Manusia di Dunia
adalah Saudara, menunjukkan perilaku sesuai dengan Delapan Kebajikan
(Ba De), menunjukkan sikap mudah bergaul dan berkawan dengan para
sahabat yang membawa faedah yang berada di lingkungan sekolah,
tetangga dan lainnya tanpa memandang suku, ras, agama dan golongan,
dan menunjukkan semangat introspeksi dan mau segera mengakui
kesalahan serta memperbaiki diri. |
Capaian Pembelajaran Pendidikan Agama Khonghucu Dan Budi Pekerti (pakhbk) fase lain dapat di lihat di bawah ini: